Hikmah

Setitik Dari Hikmah Isra’ Mi’raj

إنَّهُ هُوَالسَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Sesungguhnya Allaah Maha Mendengar Maha Melihat.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Sayyidina Muhammad telah terjadi 14 abad silam. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis) di Palestina. Mi’raj adalah naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Aqsa menuju Sidratul Muntaha untuk “menghadap” Allah Ta’ala.

Sejumlah pembelajaran dapat kita petik dari perjalanan Isra-Mi’raj yang mesti kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pelaksanaan keagamaan, kenegaraan, kemasyarakatan, maupun kehidupan keluarga dalam upaya mencapai kehidupan yang berkah, antara lain :

PERTAMA

Perjalanan yang ditempuh Rasul adalah dari Masjid Haram (Mekah) menuju Masjidil Aqsha (Palestina). Masjid adalah tempat suci sebagai sarana mendekatkan diri (muqarrabah) dengan Sang Pencipta. Dari Masjidil Aqsha naik lurus menuju Sidratul Muntaha, itu juga tempat suci, akhir dari perjalanan manusia menuju hidup yang lebih bahagia karena di dekatnya ada Sorga Ma’waa. Dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha adalah perjalanan datar (horizontal), sedangkan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha merupakan jalan yang tegak lurus (vertikal).

Horizontal adalah hubungan manusia dengan sesamanya, sementara vertikal adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, dan Islam mengatur kedua hubungan tersebut secara serasi dan seimbang (Hablum minallaahi wa hablum minannaasi). Jika ditarik garis lurus dari masjidil Haram ke Sidratul Muntaha maka hubungan menjadi Segitiga Siku-siku.

Mengapa hubungan datar (horizontal) hanya sampai di Masjidil Haram tidak langsung menembus ujung dunia, sebabnya antara lain karena manusia dibatasi oleh Ruang dan Waktu; tidak akan hidup selamanya dan hanya akan menempati tempat yang sudah terukur luas ruang-nya.

Segitiga Siku-siku menggambarkan peran dan fungsi Islam yang di dalamnya memuat 3(tiga) pokok (rukun) agama; IMAN, ISLAM, dan IHSAN  (Aqidah, Syari’ah dan Hakikat/Tasawwuf). Iman adalah urusan pikiran (akal) atau Aqidah, Islam adalah urusan perbuatan anggota badan (Syari’ah), sementara Ihsan adalah urusan hati (rasa).

Sudut Islam (siku-siku) dibentuk oleh 2(dua) garis yang menghubungkannya dengan sudut aqidah dan sudut hakikat. Besarnya 90 derajat, diisi dengan keseimbangan antara hablum minallaah dan hablum minannaas. Sedangkan sudut Hakekat (tashawwuf) dibentuk oleh kedua garis yang menghubungkannya dengan sudut syari’at dan sudut aqidah. Luasnya tidak sebesar sudut syari’at karena akhir dari hakekat/ tashawwuf adalah ma’rifat (mengenal Allah Yamh Esa). Sementara sudut aqidah menyinari dan sebagai sumber dari garis/sudut syari’ah dan ma’rifat /tashawwuf.

KEDUA

Rasul adalah sebagai sosok manusia, makhluk Allaah yang paling sempurna (insaan al kaamil), beliau adalah pemimpin, teladan bagi umatnya (uswatun hasanah) dengan mengedepankan akhlak mulia (makaarimal akhlaq), memiliki sifat-sifat Shiddiiq (benar),  Amaanah (terpercaya, jujur), Fathaanah (cerdas akal, hati, dan spiritual dan cerdas dalam bertingkah), Tabliigh (menyampaikan) risalah yang diembannya.

Malaikat Jibril adalah petugas Allaah untuk mendampingi Rasul; membimbing, mengarahkan dan memberi petunjuk, serta tempat bertanya ketika Rasul membutuhkan, menjelaskan rahasia-rahasia yang yang masih samar bagi Rasul dalam mengemban tugas yang diampunya.

Malaikat Mikail terkenal dengan sebutan Malaikat pembagi Rizki atas instruksi dari Sang Roziq Subhanahu wata’ala.

Di dalam bersyari’at betapapun pinternya seorang hamba, haruslah ada Guru Pembimbing yang harus ditaati, dicontoh, dimintai arahan agar yang dilakukan tidak keluar dari syari’at, juga mutlak diperlukan topangan ekonomi yg memadahi.

Buraq, adalah sejenis hewan yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, (Fauqal Hiimaar duunal bighaal), sedikit di atas Himar dan di bawah Bighal, artinya “pertengahan” (tawashuth).

Berwarna putih, dan jika melangkah sepanjang mata memandang (visioner),  cepat laksana kilat (barqu), berjalan lurus dan tegak (i’tidal, istiqaamah), jika jalan naik maka kaki belakang memanjang, sedang jika turun kaki depan yang memanjang,dia bukan berjalan santai akan tetapi berlari super cepat (juga bukan terbang) kecepatan kaki buraq yang modod mengkeret seiring dengan kecepatan lari sang buraq, sehingga membuat nyaman yang menumpanginya (tawaazun).

Dia tidak pernah sombong dengan kemampuan larinya yang extra cepat, juga tidak pamer walaupun ditugaskan membawa penumpang seorang yang sangat mulia, kekasih Allah, dia tidak pernah mengumumkan perannya., namun mampu menyelesaikan tugas sesuai rencana., membawa Rasul bahkan dia seolah-olah menghilang begitu saja, tidak kembali menemui komunitas hewan lainnya, dia takut muncul rasa tinggi hati serta dia khawatir menyaksikan hewan lainnya minder atas nya. Dia sangat toleran (Tasamuh).

KETIGA

Mi’raj merupakan mu’jizat yang khusus diberikan kepada Rasulullah., bukan kpd yg laiinnya. Nampak bohongnya kalo ada orang, wali sekalipun yg mengaku mi’raj sekali saja apa lagi 70 kali dalam sehari. Sidrah Al Muntaha berda setelah Langit ke Tujuh, Tempat mentok paling atas menurut pandangan makhluq  dan di samping tempat itu surga tempat tinggal abadi. (indaHa Jannatul Ma’wa). Tidak ada Makhluk lain selain Nabi Muhammad. Malaikat Jibril aja ndak kuat sampai ke tempat tersebut.

Nabi menghadap sangat dekat dengan Allah, (bukan berarti Allah bertempat disitu). Nabi Musa yang Kaliimullah saja munajat kepada Allah masih dengan sekian ribu Hijab. Nabi Muhammad sudah Bi La Sitrin wala Hijab.

KEEMPAT

Perjalanan Isro’ Mi’raj menunjukkan sebuah keimanan yag meningkat dari Ilmu Yakin naik ke
Ainul yakin sampae pada tataran Haqqul yakin.

Contoh:

Ilmu Yakin : tahu ada kopi karena terdengar suara seduhan sendok beradu cangkir, sudah tercium baunya.
Ainul Yakin : sudah terlihat secangkir kopi dihidangkan.
Haqqul Yakin : setelah terasa dengan lidah ketika sudah diseruput.

Pengertian (ilmu) tentang adanya Arasy, Surga, Neraka, para Malaikat, para Nabi Rasul dengan segala yg terkait, Nabi Muhammad SAW telah menyaksikan langsung dengan mata kepala (‘ain),  bahkan telah merasakannya (haq).

Sekian, tentu masih banyak salah dan kekurangannya. Semoga bermanfaat dan berbarokah bagi kita di dalam ber’ubudiyah dan beramaliyah .

Wallahu A’lam bis Showab.
Wal HamduLiLLahi Robbil ‘alamiin.

 

K.H. Ahmad Dainuri Noor

Kalibawang, 27 Rojab 1446 H

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button