PC Fatayat NU KP Sukses Gelar Sosialisasi Literasi Kolaborasi Dispusip DIY

Kulon Progo (Fatayatnu) – Di tengah masifnya gempuran Artificial Intelegence (AI), PC Fatayat NU Kabupaten Kulon Progo berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta (Dispusip DIY) sukses gelar acara bertajuk sosialisasi Literasi Budaya Membaca dengan tema Soekarno Islam dan Pancasila. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Aula PCNU Kulon Progo, Rabu (8/4/2026). Menghadirkan dua narasumber, Akhid Nuryati, S.E. dan Istana, S.H., M.I.P. selaku praktisi dan pemerhati literasi.
Ketua PC Fatayat NU Kulon Progo menyampaikan rasa terima kasih atas kerjasama semua pihak. “Terima kasih kepada Dispusip yang telah memfasilitasi acara ini. Juga terima kasih kepada sahabati Fatayat yang telah menyukseskan acara,” ujarnya. Ia berharap, acara tersebut dapat memberikan edukasi dan wawasan baru bagi generasi muda, baik siswa SMA/K, santri pondok pesantren, maupun Karang Taruna.

Dihadiri pelajar, santri, dan karangtaruna dari berbagai wilayah di Kabupaten Kulon Progo, Akhid Nuryati mengajak peserta terlibat secara aktif dalam sesi materi pertama. Ia mengapresiasi siswa MAN 2 Kulon Progo yang telah memiliki budaya baca kritis. “Di tengah masifnya AI, masih ada anak muda yang baca buku, artinya luar biasa. Menjadi apapun kita, literasi wajib. Dengan membaca buku kita akan teredukasi dengan sendirinya,” ujar anggota DPRD yang juga pecinta buku semenjak belia. Ia mengisahkan buku warisannya yang diserahkan ke SMAN 2 Wates, yang saat ini dikenal sebagai sekolah unggul literasi.
Adapun narasumber kedua, Istana memperkuat pernnyataan bahwa Soekarno sebagai tokoh nomor satu Indonesia, perumus Pancasila, merupakan hasil berliterasi secara komprehensif, berdasarkan renungan-renungan paling religius, sehingga menelurkan konsep Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia. “Buku ini ditulis oleh Ahmad Basarah, menjadi rujukan tokoh-tokoh nasional dalam menjalankan tata kelola negara. Sekaligus meluruskan anggapan yang selama ini beredar sebagai bagian dari sejarah. Bersama tokoh-tokoh lainnya, rumusan Pancasila sebagai hasil ijtihad tersebut, menjadi pondasi pemersatu bangsa Indonesia,” lanjutnya.
“Para pemimpin dunia mengakui kepemimpinan Soekarno. Bahkan sampai sekarang, Sejarah Pancasila terus berlangsung. Pancasila asli hidup tumbuh berkembang di Indonesia berasal dari nilai-nilai hidup asli bangsa Indonesia yang tak tergantikan,” ujarnya.

Dengan dipandu moderator Siwi Nurdiani, sesi tanya jawab diwarnai beberapa pertanyaan dari peserta sosialisasi. Salah satu pertanyaan yang diapresiasi, adalah sharing pengaman riset Rina, pengurus Fatayat NU Kulon Progo yang menceritakan proses riset sejarah Kulon Progo yang terkendala terbatasnya arsip lama di Kulon Progo. Tak kalah menarik, di akhir sesi Istana memberikan tips suka baca buku ala Rocki Gerung. “Letakkan buku di mana-mana, sehingga hanya buku yang kamu lihat dan dapat diambil lalu dibaca setiap saat,” lanjutnya. Ia pun tidak merekomendasikan AI sebagai dasar dalam berliterasi. “Itu hanya akan membuatmu seperti robot yang hanya bergerak namun tak mempunya ruh,” tegas Akhid. (siw)



